Blogger Widgets

Rabu, 12 September 2012

Ayo, Belajar Jadi Wartawan

Judul buku : Cara Gampang Jadi Wartawan
Penulis : AA Kunto A
Penerbit : Indonesia Cerdas, Yogyakarta
Tahun Terbit : Oktober, 2006
Tebal buku : 188 Halaman

Kalau kita simak, buku-buku yang menulis tentang jurnalistik, sebenarnya sudah banyak. Namun sayang, umumnya buku-buku itu berkisar tentang teori dan ragam jurnalistik saja. Sementara buku yang membahas soal wartawan dan trik-trik mendapatkan berita secara tersendiri, boleh kita bilang masih kurang. Maka dari itu, peluncuran buku yang berjudul Cara Gampang Jadi Wartawan, pantas kita sambut dengan baik. Apalagi dalam kenyataannya, kita masih kerap menjumpai penilaian masyarakat bahwa menjadi wartawan itu susah dan tidak mengasyikkan.

Buku yang berukuran 125 x 188 mm ini benar-benar akan membuat pembaca menyatakan bahwa jadi wartawan itu mudah. Karena menjadi wartawan tidak perlu menunggu sarjana atau bergelar tinggi. Bukan gelar yang jadi ukuran kemampuan seseorang untuk jadi wartawan profesional. Sekalipun baik berpendidikan tinggi, namun jauh lebih baik berwawasan luas dan berpengetauhan tinggi.
Di sisi lain, yang membuat buku ini begitu menarik dan berbeda dari buku jurnalistik yang sejenis adalah, pengarahan dan perhatian khusus AA Kunto A sebagai penulis terhadap kesulitan yang selama ini dialami wartawan, yaitu bagaimana mengamati peristiwa di lapangan dan mencari tahu informasi dari setiap peristiwa yang terjadi, sehingga bisa dijadikan data konkrit dalam meracik berita. Jadi, penekanan pada upaya pencapaian informasi yang efektivitas, objektivitas dan produktivitas – seperti yang banyak diungkap buku-buku lain – di sini terasa lebih kaya. Apalagi, dalam setiap peristiwa yang laik untuk diliput diberikan bimbingan pertanyaan-pertanyaan yang paling urgen untuk ‘digali’ dan dicari tahu oleh seorang wartawan. Bahkan, penulis juga memberikan trik-trik bagaimana menerobos narasumber yang sulit untuk dimintai keterangan. Misalnya dengan mencari tahu apa hobi atau penghargaan yang baru dicapai narasumber. Jadikan topik ini sebagai ‘pintu masuk’. Setelah akrab, baru mulai untuk menanyakan permasalahan inti yang ingin ditanyakan kepada narasumber. Jelas sekali, trik ini sangat membantu sekali buat wartawan pemula.

Terakhir sebelum menutup pembahasannya, AA Kunto A juga memberikan kiat peraktis untuk memuluskan jalan menjadi wartawan. Dari persiapaan apa saja yang perlu dimiliki dari jauh-jauh hari, hal-hal yang urgen untuk diisi dan disiapkan dalam curriculum vitae hingga trik-trik ampuh saat menghadapi interview yang diadakan di kantor redaksi. Intinya, penulis benar-benar memberikan bimbingan dan arahan untuk bisa lulus tes menjadi wartawan.

Jadi, buku ini tetap penting bukan hanya bagi mereka yang ingin berkiprah di dunia wartawan, atau para wartawan junior yang ingin jadi wartawan profesional, tetapi juga bagi mereka yang ingin tahu bagaimana cara dan langkah-langkah wartawan dalam mencari dan meracik berita sehingga memberikan informasi yang bermanfaat bagi khalayak.

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.